Minggu, Juli 12, 2009

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi


Penemu Angka Nol itu Bernama MUHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI
Al-Khawarizmi ialah pengembang ilmu geomatrik dengan angka-angka untuk persamaan kuadrat. Dia pula penemu angka nol sehingga setiap orang kini bisa menghitung demikian banyaknya lewat bantuan angka nol. Apa jadinya jika angka itu tidak di temukan?

Sayang banyak kaum terpelajar di negara berpenduduk mayoritas islam tidak mengenalnya. Ruang kelas disekolah justru mengenalkan matematika atau ilmu hitung termasuk aljabar melalui ilmu pengetahuan barat. Tidak mengheran, kedigjayaan pemikir islam pada zaman keemasannya kurang dikenal. Kaum terpelajar islam lebih mengenal, misalnya Leonardo Fibonacci yang karyanya justru dipengaruhi oleh Al-khawarizmi.


Matematikawan yang bernama lengkap Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi merupakan intelektual muslim yang banyak menyumbangkan karyanya dalam bidang matematika, geografi, musik, dan sejarah. Dia lahir di Khawarizmi(khiva), di selatan amu darya, pada tahun 780 M, leluhurnya bermigrasi dan menetap di Qutrubulli, sebuah distrik di bagian barat baghdad, Irak.

Sejarah sedikit sekali mencatat masa muda tokoh besar ini. Namun, yang pasti kepandaian dan kecerdasan pikirannya yang mengantarkan masuk ke dalam lingkungan Darul Hukama(rumah kebijaksanaan), sebuah lembaga riset dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan Ma’mun Ar-Rosyid, Kholifah Abbasiyah yang terkenal. Di lembaga tersebut, bersama rekan-rekannya yang tekun memperdalam disiplin astronomi, ia mengadakan penelitian astronomi.

Karya Al-Khawarizmi dalam bidang matematika dihasilkan melalui karya berjudul Hisab Al-Jabar wal Muqobla dan kitabul Jama’ wat-Tafriq. Kedua kitab tersebut banyak menguraikan tentang persamaan linier dan kuadrat; kalkulasi integrasi dan persamaan dengan penjelasan dan enam contohnya. Konsep berhitung yang diciptakannya ini kemudian diperkenalkan oleh Robert Chester ke dalam ilmu pengetahuan Eropa. Ahli ilmu Aljabar Leonardo Fibonacci dari Pisa pun mengaku berutang pada Khawarizmi.

Khusus dalam kitabul jama’ wat-Tafriq yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin frattati d’Aritmetica, Al-Khawarizmi menerangkan dalam praktik sehari-hari seluk beluk kegunaan angka-angka, termasuk angka nol. Naskahnya ini menjadi karya gemilang di bidang aljabar. Buku karangannya ini, disadur ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona, digunakan sebagai rujukan utama hingga abad ke-16 di universitas-universitas Eropa.

Sumbangan Al-Khawarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli matematika Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini.

Adelardi dari Bath, pada tahun 1126, menyadur temuan-temuan ilmu pengetahuannya ke dalam bahasa latin. Boleh dikatakan bahwa karya-karya Al-Khawarizmi mempengaruhi kaum pemikir dan ilmuwan lebih jauh pada masa kemudian, seperti Umar Khayam, Leonardo Fibonacci dari Pisa, dan Jacob dari Florence.

Selain di kenal sebagai matematikawan, Al-Khawarizmi dikenal juga sebagai astronom. Di bawah pengawasan Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom pimpinannya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Riset pengukuran ini dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya, 56,75 mil arab sebagai panjang derajat meridian. Menurut CA Nallino, ukuran ini hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi di buat menjadi 6.500 mil dan kelilingnya 20.400 mil. Sebuah perhitungan luar biasa yang bisa dilakukan pada saat itu. Dengan kepandaiannya pula, Al-Khawarizmi menyusun sebuah buku tentang perhitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.

Ia juga menerjemahkan sebuah tabel perhitungan dari india, Sindhata, yang kemudian diulasnya dengan baik. Dengan memperhatikan tabel tersebut dan dari sumber-sumber lain, sebuah tabel karyanya sendiri sebagai hasil pengembangan menjadi perhatian kalangan astronomi di Eropa, terutama setelah diterjemahkan Adelardi. Tabel direvisi astronom Spanyol, Majriti. Ilmuwan Cina pun mengadaptasi tabel ini, termasuk nilai-nilai ukur sudutnya serta fungsi sinus dan tangen.

Masih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Bukunya Kitab Surat Al-Ard, menjadi dasar dari ilmu bumi Arab. Naskah itu hingga kini masih tersimpan di Strassburg, Jerman. Abdul Fida, seorang ahli ilmu bumi terkenal, menyebut buku itu sebagai buku yang menggambarkan bagian-bagian bumi yang di huni manusia karena dihiasi secara lengkap dengan peta beberapa bagian dunia. CA Nallino, seorang penerjemah karya-karya Al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tidak ada orang Eropa yang dapat menghasilkan karya, seperti yang diciptakan oleh Al-Khawarizmi ini.

Tidak hanya menguasai matematika dan astronomi, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai ahli seni musik. Salah satu buku matematikanya, dia menuliskan pula teori seni musik, buku itu diterjemahkan oleh Adelardi pada abad ke-12 dengan judul Liber Ysagogarium Alchorism. Pengaruh buku ini kemudian menyebar sampai ke Eropa dan sejarawan Philip K.Hitti menyebutkan sebagai perkenalan pertama musik Arab ke dunia Barat atau dunia Latin.

Banyak pujian yang diberikan para sejarawan dan ilmuwan dari Eropa kepada karya-karya Al-Khawarizmi. Pujian itu diantara lain ditulis Philip K.Hitti, penyusun The History of The Arabs yang menyebut Al-Khawarizmi sebagai tokoh utama dalam sejarah awal matematika Arab. Secara lebih luas lagi, Sumbangan Al-Khawarizmi dalam bidang matematika, di tandai dengan memperkenalkan angka-angka Arab atau Algoritme ke dunia barat sehingga diterima di seluruh dunia.

Sejarawan George Santon begitu memuja Al-Khawarizmi dengan menyebutnya sebagai salah seorang ilmuwan terkemuka dari bangsanya dan terbesar pada zamannya. Dengan meninggalkan karya-karya penting dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan astronomi, Al-Khawarizmi meninggal pada tahun 846 M.

0 comments:

Posting Komentar